Tuesday, 4 June 2013

CERPEN

INDRA (kisah haru anak aceh) Namaku indra, aku  adalah  anak dari ibu fatimah dan bapak zainal abidin. Aku mempunyai dua orang adik b... thumbnail 1 summary
INDRA (kisah haru anak aceh)

Namaku indra, aku  adalah  anak dari ibu fatimah dan bapak zainal abidin. Aku mempunyai dua orang adik bernama santi dan ramadhan. Bapak adalah salah seorang  imam atau biasa disebut tengku imum di desaku yang berada di kaki gunung seulawah. Saat ini aku menginjak usia 18 tahun dan sebulan  lagi aku akan menghadapi ujian kelulusan dari SMA tempatku belajar sekarang, dan setelah ini aku berencana melanjutkan studiku ke kota banda aceh, untuk mendaftar di universitas syiah kuala.
sore ini aku dan bapak hendak pergi ke mesjid yang berada di tengah desaku, bapak terkena giliran untuk menjadi imam shalat magrib sore ini. Waktu menunjukkan pukul 18.30 WIB. Aku dan bapak bergegas melangkah menuju mesjid dengan berjalan kaki. Namun ditengah perjalanan kami menuju mesjid, tiba – tiba aku dikejutkan oleh suara letupan senjata yang bertubi – tubi, ternyata kontak senjata antara TNI dan GAM terjadi lagi di desaku, hal yang belakangan ini lebih sering terjadi daripada tahun – tahun sebelumnya. Aku dan bapak lantas berlari sekencang mungkin untuk menghindari pertempuran yang sedang terjadi, namun naas, sebutir peluru mengenai bagian dada bapak, aku dan beberapa warga yang melihat kejadian ini langsung menggendong bapak untuk dilarikan menuju puskesmas terdekat, karena rumah sakit sangat jauh letaknya dari desa kami.
Disaat yang sama seorang warga melaporkan kejadian ini pada ibu fatimah ibuku yang biasa mereka panggil wak mah. Lalu ibu dan adik – adikku langsung beranjak menuju puskesmas tanpa memperdulikan kontak senjata yang sedang terjadi diluar, dan setiba mereka di puskesmas bapak menatap kami semua dengan tatapan kosong, hingga aku menyadari bahwa bapak akan menghembuskan nafasnya yang trakhir dan aku langsung menuntun bapak untuk mengucapkan dua kalimat sakral asy’hadu an’la’ilaha illallah wa asyhadu anna’ muhammadan’rasulullah. Dan akhirnya bapak menghembuskan nafasnya yang terakhir setelah berhasil mengucapkan dua kalimat syahadat. Kami semua menitikan air mata melihat kepergian bapak yang begitu tiba – tiba itu, namun kami sekeluarga percaya bahwa bapak telah mendapatkan tempat yang layak di sisinya.


Seminggu setelah pemakaman bapak kehidupan berjalan kembali seperti biasa, namun rasa sakit di hatiku masih sangat besar kepada mereka yang telah menembakkan pelurunya ke tubuh almarhum bapak, sehingga setamatku dari SMA aku berniat untuk bergabung bersama gerakan separatis GAM demi  mencari pembunuh dari bapakku.
Hari  ini aku telah tamat dari SMA,  namun aku membatalkan niatku untuk menempuh pendidikan sarjana di kota dan aku memutuskan untuk ikut berjuang di gunung bersama gerakan separatis GAM, hal ini aku putuskan karena aku terdorong oleh dendamku yang teramat mendalam  terhadap orang yang telah menembak bapakku walaupun aku tidak tahu itu dari golongan GAM atau TNI. Sebenarnya ibuku sangat tidak setuju dengan keputusanku ini, namun keputusanku  telah bulat dan ibuku tidak dapat berbuat apa – apa lagi, beliau hanya mampu mendoakanku agar selamat.
Hari ini aku memulai kehidupanku yang baru sebagai seorang anggota gerakan separatis GAM, aku tidak tahu sampai kapan hidupku akan berada di tempat ini, di tengan hutan rimba Aceh, aku dan anggota GAM yang lainnya sangat sering berhadapan dengan bahaya dan aku selalu berada diantara hidup dan mati, akan tetapi aku sudah sangat siap dengan konsekuensi ini.

Hari ini tepat sebulan aku menjalani hidup  sebagai anggota separatis GAM, banyak hal yang telah kulalui, mulai dari berhadapan dengan binatang buas di tengah hutan, hingga menghadapi para armada TNI yang selalu mencoba menyerang kami dimanapun kami berada. Dan tak terhitung lagi berapa orang rekanku yang telah terbunuh dan berapa orang anggota TNI yang telah aku bunuh dengan menggunakan senjata yang kumiliki sekarang ini.
Hari ini kami baru saja selesai shalat dzuhur di sebuah pondok di hutan belantara di wilayah aceh pidie, tiba – tiba terdengar suara letupan senjata api dari jarak jauh, salah satu temanku yang bernama amri yang sedang piket jaga terkena tembakan di kepalanya dan ia tewas seketika. Kami semua lalu lari sambil menembak kearah para TNI itu, aku melontarkan beberapa tembakan dan pada hari itu beberapa orang TNI tewas ditanganku. Kami terus berlari sambil melawan. Setelah kurang lebih satu jam kami dalam pertempuran, kaki kananku terkena tembakan yang menyebabkan aku tak mampu lagi untuk berlari hingga akupun akhirnya memutuskan untuk bersembunyi dibalik semak belukar yang membuat seluruh tubuhku terasa gatal. Di dalam persembunyianku  itu aku merasakan penyesalan yang amat mendalam, aku jadi teringat kata – kata ibuku, bahwa balas dendam tidak akan menyelesaikan masalah, akan tetapi  malah membuatnya menjadi lebih panjang lagi. Dan tanpa kusadari air mataku menetes karena penyesalanku yang amat mendalam, di dalam hati aku berkata, “ ya allah,  apa yang telah kulakukan selama ini, aku telah menyia – nyiakan hidupku hanya untuk membalaskan dendamku yang sebenarnya hanya akan menambahkan beban dosaku, lantas untuk apa aku shalat kepadamu, ya allah jika di hatiku masih terdapat dendam yang membara  maafkanlah hambamu ini. Ibu, maafkan aku” . aku terus menangis hingga satu jam lamanya di dalam persembunyianku, hingga hutanpun akhirnya sepi dari para TNI dan GAM yang tadinya sibuk menembakkan senjata mereka kearah lawan, kini tinggal aku sendiri beserta sepucuk senjata AK–47 dan beberapa amunisinya yang kumasukkan kedalam tas samping milikku. Kusobek sedikit bajuku untuk membalut luka tembakku dan aku langsung beranjak menuju desa terdekat untuk meminta bantuan medis.
Setibaku di desa terdekat, aku langsung dibantu oleh para warga dan dibawa ke puskesmas sekitar, desa ini adalah salah satu desa yang sangat Pro dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) , mereka langsung melarikanku ke puskesmas terdekat untuk dioperasi agar peluru di kakiku dapat terangkat.aku dilarikan ke peuskesmas karena di daerah yang sedikit terpencil ini memang tidak ada rumah sakit. Setelah melalui operasi darurat di pusesmas desa tersebut aku dirawat oleh seorang  janda tua bernama maryam yang biasa di panggil cek yam oleh warga sekitar, yang katanya anaknya juga menjadi anggota separatis sama sepertiku, ia merawatku dengan penuh kasih sayang sama seperti ibuku sendiri. ia membuatku menjadi semakin rindu kepada ibuku, dan ia membuat rasa penyesalanku semakin besar karena telah mengambil tindakan konyol dengan meninggalkan ibuku, adik – adikku, dan masa depanku hanya demi membalaskan dendam atas kematian bapakku yang mungkin bapak sendiri tidak ingin aku melakukan hal itu.
Setelah aku sembuh dan kembali mampu untuk berjalan, aku langsung mohon diri kepada cek yam untuk pulang ke kampung halamanku karena aku telah sangat merindukan ibuku, lalu sebelum aku pulang aku menitipkan senjata api yang ada padaku kepada cek yam untuk diserahkan kembali kepada anggota GAM  jikalau ada gerombolan anggota GAM yang melewati kampung tersebut. setelah minta izin, aku langsung pulang ke kampung halamanku dengan menaiki bus Bireun Expres (BE) dengan menggunakan uang yang disumbangkan oleh  warga desa kepadaku. Beruntung namaku Belum masuk ke dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) oleh kepolisian karena aku juga belum terlalu lama tergabung di GAM dan namaku belum sempat dikenal oleh banyak orang baik dari kalangan GAM sendiri maupun dari kalangan TNI dan Kepolisian, jadi walaupun terjadi beberapa razia di jalan, aku selalu selamat di perjalananku, malah saat di razia aku sempat melihat beberapa orang anggota GAM yang ditangkap, yang salah satunya aku mengenalinya karena dia juga sempat berperang bersama denganku.
Sesampaiku di kampung halaman, baru beberapa langkah aku memasuki kampungku aku mendengar kabar bahwa ibuku sakit keras karena mendengar kabar bahwa aku hilang di hutan beberapa minggu yang lalu dari beberapa orang anggota GAM yang melewati kampungku untuk mencari makanan. Aku diberitahu oleh teman lamaku bahwa Ibuku sedang dirawat di Rumah sakit umum Dr Zainal Abidin, untuk perawatan jantungnya karena jantung ibu mulai melemah. Lalu dengan sisa uangku dan uang yang diberikan oleh teman lamaku itu, akupun langsung berangkat ke banda aceh untuk mengetahui kondisi terbaru dari ibuku.
Sesampaiku di banda aceh, aku langsung menuju RSU zainal abidin, agar dapat bertemu dengan ibuku dan akhirnya setelah bertanya kepada beberapa orang resepsionis, aku akhirnya dapat menemui ibuku sedang terbaring lemah di atas sebuah ranjang di salah satu ruangan di rumah sakit tersebut. Dan saat aku memasuki ruangan tersebut, adik bungsuku Ramadhan langsung memelukku erat – erat tanpa berbicara sepatah katapun dan ia menitikan air mata. Lalu aku langsung membalas rangkulannya dan aku memohon maaf  kepadanya. Lalu aku memeluk adikku yang pertama, santi. Dan aku juga memohon maaf kepadanya. Suasana mengharukan terjadi di runagan itu. ibu yang baru saja terbangun dari tidurnya memanggil namaku, dan aku  langsung datang dan menangis memohon maaf  kepadanya. Ibu hanya menjawab, “kau telah kumaafkan sejak dulu nak”. Aku sangat bahagia mendengar pernyataan itu keluar dari mulut ibuku.

Setelah seminggu aku dan adik – adikku merawat ibu di rumah sakit, akhirnya kesehatan ibu membaik dan telah diizinkan pulang oleh dokter. lalu kami sekeluarga pulang ke desa kami dan akhirnya aku meneruskan hidupku seperti sedia kala. Di tahun berikutnya yaitu pada prtengahan tahun 2004, aku memutuskan untuk melanjutkan studiku di  Universitas Sumatra Utara (USU) dan aku berhasil diterima di Fakultas Hukum. Aku memilih kuliah di USU karena aku takut jika aku kuliah di Banda Aceh  aku akan dicari – cari oleh para polisi karena aku pernah tergabung dalam Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
 Kini aku mulai menghadapi  kehidupanku yang baru sebagai mahasiswa. Namun, walaupun begitu cerita tentang masa laluku akan selalu kukenang dan kujadikan pengalaman yang sangat aku yakini akan sangat berarti bagi kehidupanku di masa depan.
 
TAMAT


KARYA : Ricky Pratama
harap tuliskan sumber jika hendak mengcopy

No comments

Post a Comment

Adsense

Ayeesha Hijab. Menjual Busana Muslimah. Kunjungi Kami di Instagram @ayeesha.hijab